Penyerbuk Ekonomi dan Ekologi di Hutan Hujan Tropis Pekalongan

BERKAHPOKERBanyak yang mengidolakan, namun tidak sedikit yang tidak menyukai buah Durian. Buah khas wilayah tropis antara 23,5° Lintang Utara (LU) dan 23,5° Lintang Selatan (LS) itu memiliki ragam kandungan vitamin serta nilai gizi yang tinggi bagi kesehatan. Seperti vitamin C, B, potasium, zat besi, lemak sehat, serat, dan senyawa nabati

Manfaat buah Durian antara lain menjaga saluran pencernaan, mengatasi sembelit, serta meminimalisir penuaan dini lantaran kandungan antioksidan yang tinggi dapat melawan radikal bebas. Selain itu, mampu meningkatkan daya tahan tubuh, mengatasi insomnia, dan mengontrol tekanan darah.

Buah Durian yang selama ini dituding merusak, justru menyehatkan jantung karena menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL). Sebaliknya, beberapa orang malah tidak menyukai Durian karena bau menyengatnya.

“Durian punya aroma dan rasa yang belum tentu cocok bagi semua orang. Nutrisi buah Durian bisa mendukung kesehatan selama dikonsumsi dalam jumlah yang cukup. Meski terbukti memiliki beragam manfaat sehat, penderita diabetes perlu berhati-hati dengan buah Durian karena memiliki kadar gula yang tinggi sehingga berpotensi menyebabkan kadar gula darah naik,” kata dr Muhammad Iqbal Ramadaansir laman resmi Klikdokter.

Mengacu data Direktorat Perbenihan Hortikultura, hingga 2020, terdapat 104 varietas buah Durian di Indonesia yang resmi dilepas Kementrian Pertanian. Varietas pertama adalah durian Sunan yang dilepas tahun 1984 dan terakhir durian Serumbut pada 2019.

Dari ratusan jenis itu, banyak varietas buah bernama latin Durio zibethinus tersebut yang belum dilepas dan tidak diketahui banyak orang. Salah satunya adalah durian Mendolo.

1. Durian Mendolo banyak tumbuh di hutan hujan tropis Petungkriyono

Durian Mendolo merupakan buah khas Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Pohon-pohonnya banyak tumbuh di sekitar hutan desa tersebut, yang masih dalam satu bentang dengan hutan hujan tropis Petungkriyono.

Pengelolaan hutan di wilayah tersebut dikendalikan Perum Perhutani dibawah Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Pekalongan Timur melalui Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Karanganyar.

Pohon Durian tumbuh secara alami–oleh hewan penyebar biji seperti musang, bajing, tupai–dan buatan–dari nenek moyang–di hutan sekitar Desa Mendolo. Masyarakat setempat kini membudidayakannya dengan sistem tanpa perawatan, sehingga meminimalisir aksi deforestasi hutan dan penebangan pohon.

2. Pemanfaatan HHBK Durian untuk kemaslahatan bersama

Pohon Durian masuk sebagai tanaman serbaguna kategori Multi Purpose Trees Species (MPTS) atau yang mempunyai manfaat ganda. Pohon tersebut menghasilkan produk kayu dan produk bukan kayu seperti getah, daun, bunga, serat, buah.

Pemanfaatannya oleh masyarakat setempat diatur sebagaimana Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) Nomor P.77/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2019 tentang Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) pada Hutan Produksi dan Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu pada Hutan Negara.

HHBK merupakan hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani beserta produk turunan dan hasil budidaya kecuali kayu yang berasal dari hutan. Jenis HHBK yang diizinkan diambil masyarakat di sekitar hutan, mengacu beleid tersebut, antara lain madu, getah, rotan, kulit, buah, daun, serta tanaman obat, dalam volume dan jangka waktu tertentu.

“Masyarakat di sekitar (hutan) menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan ekosistem hutan. Pengelolaan hutan sebagai penghasil HHBK menambah pendapatan mereka, dengan tetap memperhatikan faktor ekologi. Sistemnya berbagi (sharing) melalui Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Mereka memanfaatkan dan mengusahakan HHBK dengan tidak merusak hutan,” kata ADM KPH Pekalongan Timur.AGEN POKER TERPERCAYA

3. Durian Mendolo tidak menggunakan setek

Masyarakat yang memanfaatkan HHBK antara lain warga Dukuh Mendolo Wetan. Sebanyak 46 Petani dari daerah tersebut memiliki masing-masing 50–100 pohon Durian dengan ketinggian pada umumnya mencapai lebih dari 50 meter.

Mereka memanen Durian setiap tahun pada bulan Februari–April. Adapun, hasil panen per petani mencapai 500–600 buah, yang dijual dengan harga Rp10 ribu per buah.

“Durian Mendolo adalah durian lokal Organik. Penanaman dan budidayanya tidak menggunakan setek, sebagaimana umumnya. Semua alami tanpa perawatan. Makanya rasanya manis, tidak ada kandungan obat atau bahan kimia sama sekali. Besar buahnya paling kecil berukuran 3 kilogram (kg),” kata salah satu petani Durian

Pria berusia 45 tahun itu berkisah apabila kapasitas panen buah Durian miliknya mengalami penurunan setiap tahun. Kondisi tersebut sudah terjadi sejak 13 tahun terakhir atau pada tahun 2007.AGEN POKER ONLINE

By ichigo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *